Misteri Gus Im

0
244

Misteri Gus Im

Diantara keluarga Bani Wahid, Gus Im (KH. Hasyim Wahid)–adik bungsu Gus Dur– bisa dikatakan sebagai orang yang jarang tampil ke publik. Beliau lebih banyak menjadi aktor bawah tanah. Gus Im kelihatan di publik barangkali ketika menjadi salah seorang Ketua PDI Perjuangan dan anggota BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), pada masa awal reformasi. Selebihnya, beliau lebih banyak bergerak di balik layar. Saya juga belum pernah menyaksikan Gus Im dan Gus Dur duduk satu meja bercengkerama. Bahkan, ketika Gus Dur wafat pun pada 2009, Gus Im tidak muncul ke permukaan. Jadi, tidak salah kalau Gus Im dibilang manusia penuh misteri, termasuk hubungan kakak adik, Gus Dur dan Gus Im-pun masih menyimpan misteri yang hingga sekarang belum saya ketahui. Kehidupan keluarga Gus Im juga tidak banyak yang tahu.

Dibanding dengan teman-teman seperti Savic Ali, saya termasuk kader NU yang intensitas pergaulan dengan Gus Im sangat rendah. Perjumpaan saya dengan Gus Im bisa dihitung dengan jari. Banyak teman-teman saya, anak-anak muda NU, menjadi “anak didik” Gus Im, dan sering menemani Gus Im, terutama aktivis gerakan “bawah tanah”.

Saya hanya mendapat cerita tentang Gus Im dari kawan-kawan itu. Yang banyak diceritakan sekitar “misteri Gus Im” dan sepak terjangnya dalam berbagai momen penting. Soal bisnis persenjataan sampai dunia gaib-nya Gus Im saya hanya mendapat cerita. Model komunikasi Gus Dur dan Gus Im juga sering saya dengarkan dari kawan-kawan ini.

Meski begitu, saya membaca beberapa karya Gus Im, seperti buku Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia. Wawancara panjangnya di KOMPAS sekitar tahun 2000 ketika beliau menjadi salah satu pejabat di BPPN saya baca betul. Waktu itu, saya masih kuliah S3 di UIN (IAIN) Jakarta, dan salah seorang dosen saya, Prof. Dr. Bahtiar Efendy, bertanya ke saya: “Rum, kamu sudah baca wawancara Hasyim Wahid di KOMPAS?”. “Iya Pak, saya baca”, jawab saya. “Gila orang itu, cerdas sekali. Saya tidak menyangka dengan pkiran-pikirannya yang tajam sekali”, komentar Pak Bahtiar ketika itu.

Saya terlibat diskusi secara langsung dengan Gus Im mungkin sekitar 4 atau 5 kali, sekitar tahun 2003 atau 2004. Setelah Gus Dur tidak lagi menjadi Presiden, Gus Im beberapa kali datang ke Wahid Institute, dan menjadwalkan diskusi rutin setiap Rabu sore. Namun diskusi itu berlangsung tidak lebih dari satu bulan-an. Dalam diksusi itu, Gus Im lebih banyak bicara tentang berbagai macam hal, seperti soal pertarungan ideologi sampai cerita soal buku “Mati Tertawa ala Rusia” yang ditulis Z. Dolgopolova dan diberi Kata Pengantar oleh Gus Gur. Saya lebih banyak mendengar pikiran-pikirannya yang kadang tidak saya pahami. Hanya sesekali saya menimpali atau bertanya tentang sesuatu. Gus Im sering memberi penjelasan tentang pikiran-pikiran kakaknya, Gus Dur– yang sering dia panggil “suheng”.

Dari diskusi itu, tidak sulit bagi saya untuk mengakui kecerdasan dan keluasan bacaannya. Bani Wahid memang keluarga luar biasa, melahirkan orang-orang hebat dengan karakternya masing-masing.

Semoga Gus Im husnul khotimah dan tenang menghadap pencipta-Nya. Bisa bercengkerama dengan “suheng”-nya, ketemu dengan kakak-kakaknya, Gus Solah dan Bu Nyai Aisyah Abdul Hamid yang sudah terlebih dahulu dipanggil Allah.

Lahumul fatihah…..

Ciputat, 1 Agustus 2020

Rumadi Ahmad

Sumber : status Facebook Rumadi Ahmad Ketua Lakpesdam PBNU