KH. Muhayat Sampaikan Tausiyah dan Penguatan Aqidah Aswaja pada Khataman Al-Qur’an 30 Juz Binnadzor di Rumah Qur’an Muh Abrori Totokaton

0
209

 

Punggur, 3 November 2025 — Dalam suasana penuh khidmat dan keberkahan, Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lampung Tengah, KH. Muhayat, memberikan tausiyah pada kegiatan Khataman Al-Qur’an 30 Juz Binnadzor yang digelar di Rumah Qur’an Muh Abrori Totokaton, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Senin (3/11/2025).

 

Kegiatan yang diikuti oleh para santri, wali santri, serta masyarakat sekitar ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Sejak pagi, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an terdengar menggetarkan hati, menjadi tanda syukur atas tuntasnya pembacaan 30 juz oleh para santri binaan Gus Fairuz dan Ning Lina Asmiyati.

 

Momentum Syukur dan Pembinaan Semangat Qur’ani

 

Acara khataman ini bukan sekedar penutup kegiatan belajar membaca Al-Qur’an, melainkan juga menjadi ajang pelatihan ruhani dan peneguhan semangat mencintai kalamullah. Para santri tampak khusyuk dan gembira menyambut momen ini sebagai buah dari kesabaran dan istiqamah mereka dalam belajar di Rumah Qur’an Muh Abrori.

 

Dalam kesempatan itu, pengasuh Rumah Qur’an, Gus Fairuz, menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini adalah bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di kalangan anak-anak dan remaja, sekaligus memperkuat karakter santri yang berakhlak Qur’ani.

 

“Rumah Qur’an ini tidak hanya fokus pada bacaan, tapi juga pada pembinaan akhlak, adab, dan pemahaman nilai-nilai keislaman sesuai manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah An Nahdliyah,” ujarnya.

 

Tausiyah KH. Muhayat: Al-Qur’an Sebagai Penuntun dan Peneguh Aqidah

 

Dalam tausiyahnya, KH. Muhayat menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan.

 

“Membaca Al-Qur’an bukan hanya ibadah lisan, tetapi juga penjagaan hati dan akidah. Siapa yang hidup bersama Al-Qur’an, maka Allah akan menjaga hatinya dari kegelapan dan kebingungan zaman,” ungkapnya.

 

Beliau menambahkan, di tengah tantangan zaman modern yang serba cepat dan sering menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama, umat Islam harus memperkuat akidahnya dengan berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An Nahdliyah.

 

“Rumah Qur’an dan pondok pesantren harus menjadi benteng akidah Aswaja. Dari lahirnya generasi yang mencintai ulama, menghormati tradisi, dan menjaga Islam rahmatan lil ‘alamin,” tegas KH. Muhayat.

 

Sinergi Lembaga dan Banom NU

 

Kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh dan pimpinan NU di berbagai tingkatan. Hadir di antaranya Ketua LAZISNU PCNU Lampung Tengah, Gus Alie Fadhilah Mustofa, Ketua MWCNU Punggur, KH. Ahmad Khoiruddin, Ketua Ranting NU Totokaton, Bapak Ahmad Tohir, serta Ketua PAC GP Ansor Punggur, Sahabat Ali Ghufron.

Kehadiran para tokoh ini menjadi bukti nyata sinergi dan kebersamaan antarstruktur NU, baik dari unsur tanfidziyah, syuriyah, maupun badan otonom, dalam mendukung kegiatan keagamaan dan pendidikan di masyarakat. Mereka bersama-sama menunjukkan komitmen bahwa pendidikan Al-Qur’an adalah bagian penting dari perjuangan Nahdlatul Ulama dalam mencetak kader yang berilmu dan berakhlak.

 

Rumah Qur’an Sebagai Benteng Pendidikan NU

 

Rumah Qur’an Muh Abrori Totokaton di bawah asuhan Gus Fairuz dan Ning Lina Asmiyati telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pembinaan generasi Qur’ani di lingkungan Punggur. Di sini, para santri tidak hanya mengajarkan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga dibekali dengan dasar-dasar fiqih, tauhid, dan adab menurut pemahaman ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

 

Sebagai lembaga yang bernaung dalam tradisi Pondok Pesantren dan Nahdlatul Ulama, Rumah Qur’an ini berperan aktif dalam memperkuat karakter keislaman yang moderat, toleran, dan cinta tanah air. Kegiatan keagamaan seperti khataman, simaan, dan kajian fiqih menjadi kelancaran yang menyuburkan kehidupan spiritual masyarakat Totokaton dan sekitarnya.

 

Penutup Penuh Keberkahan

 

Acara khataman ditutup dengan doa khatmil Qur’an yang dipimpin langsung oleh KH. Muhayat. Suasana haru dan penuh kekhusyukan seluruh peserta. Lantunan doa dan dzikir menjadi puncak rasa syukur atas nikmat Al-Qur’an yang telah dianugerahkan Allah.

 

Bagi para santri, momen ini menjadi pengingat bahwa perjalanan bersama Al-Qur’an tidak berhenti di khataman, melainkan terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Sementara bagi para orang tua dan masyarakat, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren dan lembaga pendidikan NU terus berperan aktif menjaga akidah, akhlak, dan tradisi keislaman di tengah masyarakat.

 

Galeri Foto Khataman