OPINI : Mengenang 26 Tahun Berpulangnya KH Mahbub Djunaidi : Bung, Kau Hanya Satu, dan Satu Satunya

0
485

OPINI :

 Mengenang 26 Tahun Berpulangnya KH Mahbub Djunaidi :

 Bung, Kau Hanya Satu, dan Satu Satunya

Oleh :

Muflih Muhammad

(Ketua PC PMII Lampung Tengah Masa Khidmat 2018 / 2019)

Fan, denger baik baik ya, kalau papa meninggal, papa pengen pemakaman papa kayak pemakaman presiden“.

Begitu kurang lebih keinginan yang disampaikan bung – Panggilan Akrab Mahbub Djunaidi  -, kepada putranya, Isfiandari Mahbub Djunaidi. Tentang bagaimana bung ingin dimakamkan, suatu hal yang sedikit “Berbanding terbalik” dengan keseharianya yang dikenal sebagai pribadi Sederhana, sekaligus Unik. Dan keinginan itu pun terwujud.

Bung lahir sebagai putra Betawi, pada 27 Juli 1933. Ia adalah putra dari seorang tokoh NU yang cukup dikenal pada waktu itu, KH Muhammad Djunaidi. Lahir sebagai keturunan kiyai, juga mewarisi darah Jagoan pasar tanah Abang yang dimiliki kakeknya, mahbub tumbuh menjadi pribadi yang memang cerdas dan berani sedari kecil. Ia sangat gemar membaca dan memiliki kemampuan menulis yang terus dikembangkan.

“Saat kita belum bisa apa apa, mahbub sudah bisa menulis syair, membaca – baca majalah, dan banyak akal mahbub ini” begitu penuturan KH Chalid Mawardi tentang sahabatnya tersebut.

Berdasarkan kutipan dari sahabat bung yang lain, KH Said Budairi, bung telah memulai pendidikan nya di jenjang SMP pada Tahun 1949, Sesaat setelah pemulihan kedaulatan RI dari Belanda. Sejak usia belia, bung memang sudah menunjukkan kecerdasan nya dalam hal tulis menulis.  sejak SMP saja, cerpen karya nya sudah dimuat dalam majalah Kisah. Majalah bergengsi waktu itu yang berisi cerpen cerpen bermutu. Ditambah cerpen karya bung disertai dengan komentar dan penilaian pengelola majalah tersebut, HB Jassin, yang waktu itu dikenal sebagai Paus Sastra Indonesia. Bagi Bung, Peristiwa itu tidak terlupakan.

Tamat SMP pada tahun 1952, bung melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA Negeri di Jalan Budi Utomo. Disekolanya tersebut, bung mengambil posisi sebagai pemrakarsa usulan kepada sekolah agar sekolah menerbitkan majalah. Usulannya tersebut disetujui oleh pihak Sekolah dengan terbitnya majalah Siswa. Bung sendiri menjadi Pemimpin Redaksi Pertama majalah tersebut yang terbit pertama pada 6 Desember 1954.

Setamat nya bung dari jenjang pendidikan SMA, ia melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia, aktif di organisasi Ikatan Pelajaran Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hingga menduduki jabatan sebagai ketua Departemen Pendidikan PB HMI Th 1957 – 1960. Ia juga adalah ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Tentang riwayat organisasi nya ini, banyak argumen yang bermunculan, mengingat bung pernah berproses sebagai kader di IPNU dan HMI, kemudian ditunjuk sebagai ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 1960 oleh tokoh tokoh Mahasiswa NU yang bermusyawarah di Surabaya, yang kemudian PMII menjadi Organisasi “Rival” dari HMI dalam bergerak di segmen kemahasiswaan.

Argumen yang kerap kali muncul adalah “PMII Lahir dari HMI”. Bahkan bukan sekedar argumen sesaat, namun juga menjadi propaganda di kalangan mahasiswa.

“Engga, mahbub gak berhianat. Ia di tunjuk oleh kongres NU untuk mengurus PMII dan ia menjadi ketua, kalo PMII sendiri kan dibentuk oleh kongres NU” – ujar Ridwan Saidi, Ketua Umum HMI 1974 – 1976 saat diwawancarai terkait sosok sahabatnya, mahbub Djunaidi.

Terlepas dari perdebatan yang bergulir tersebut, menandakan bagaimana seorang bung menjadi perhatian banyak orang. Menjadi magnet tersendiri untuk dibahas dan dipelajari. Ia bukan hanya pernah memimpin suatu organisasi, bung lebih dari itu. Ia Syarat akan nilai dan ketauladanan.

Ia pernah dipenjara bersama bung Tomo di era orde baru, dipenjara tanpa proses peradilan. Ia pernah membela mati matian novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka, yang dituding jiplak oleh orang orang Lekra. Ia juga bersahabat baik dengan Pramoedya Ananta Toer, penulis yang beberapa kali di kutip oleh bung dalam tulisan tulisan nya. Ia adalah sosok yang “biasa” di ajak minum kopi di halaman belakang istana negara bersama bung Karno. Ia sendiri juga yang menentang pendapat bung Karno yang mengatakan negara kita adalah negara Agraris, bagi bung, Negara kita adalah Negara Maritim.

Ia adalah Bung Mahbub Djunaidi, sosok yang telah terlebih dahulu”Pulang” mendahului kita.

Kita mungkin jarang menyediakan waktu untuk mengenangkan, betapa manusia manusia yang lebih dulu hidup daripada kita harus bertempur dengan persoalan persoalan yang sulit rumit, malahan sebagian dari mereka benar benar menyediakan umurnya yang sedikit itu untuk membahagiakan manusia sesudah zamannya. Bertekun di laboratorium laboratorium, perpustakaan perpustakaan, bahkan kamar kecil segi empat yang jarang disinari matahari, untuk senantiasa merelakan dirinya ditimbuni oleh rasa dan pikir, dengan maksud maksud yang paling murni : Kebahagiaan Manusia. Untuk memenuhi maksud tersebut berapa banyak kita lihat di dalam sejarah keilmuan manusia manusia yang sudah berjanggut putih tersenyum tersipu – sipu ketika seluruh dunia menyanjungnya sebagai manusia luar biasa, mempersembahkan keadaan yang baru kepada dunia. Dan kalau umurnya sudah sampai, manusia yang tinggal mengenangnya sambil bersorak sorak atas jasa yang telah menghasilkan benda atau paham pemuas baru” (“Yang masih harus dijelmakan, Siswa 6 – 12 – 1954).

Itu adalah Salah satu tulisan bung yang sangat berkesan dan syarat nilai akan kemanusiaan di usiany yang masih remaja.

Hari ini adalah tepat 26 Tahun Bung Berpulang lebih dulu dibandingkan kita.

Mari menundukkan kepala dan berkirim Do’a. Mungkin saat ini bung menjadi orang yang tersenyum tersipu sipu, saat kita mengirimkan Fatihah berbungkus rasa terima kasih, telah menjadi tauladan sosok pemuda bagi bangsa ini. Bung, Kau Hanya Satu dan Satu Satunya.. Alfaatihah…