KH. Zulfa Musthofa : Santri Jangan Pernah Buka Aibnya Guru

0
388
Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Zulfa Musthofa

LAMPUNG TENGAH – Para santri nanti suatu saat jika sudah terjun di masyarakat ilmunya harus di amalkan. Orang yang mau mengamalkan ilmunya kepada masyarakat meskipun sedikit lama-lama akan pintar dan ‘alim. Kepada santri – santri Pondok Pesantren Darussa’adah, Mojo Agung, Gunung Sugih, Lampung Tengah ini yang setelah diwisuda ini saya berpesan, jadi santri jangan minder, yang bisa faham / pintar kitab kuning jangan bangga berlebihan.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Zulfa Musthofa dalam agenda Haflah Akhirussanah ke-38, Jum’at (16/2/2024) malam, bertepatan 6 Syaban 1445 H bertempat di Aula Muktamar NU Pondok Pesantren Darussa’adah, Mojo Agung, Seputih Jaya, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

“Ada santri dimasa di pondok pesantrennya cuma biasa – biasa saja tapi setelah lulus punya Pondok Pesantren besar, santrinya banyak, itu dikarenakan karena ilmunya berkah dan semasa mondok di Pondok Pesantren taat / ta’dhim dengan gurunya,” tambahnya.

Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Zulfa Musthofa dalam agenda Haflah Akhirussanah ke-38, Jum’at (16/2/2024)

Penulis Kitab Nadzam Tuhfatul Qashi Wa Dani ini melanjutkan, jadi semua santri Darussa’adah Mojoagung Kabupaten Lampung Tengah jika ingin ilmunya bermanfaat dan berkah maka harus ta’dhim dengan guru yakni KH. Muhsin Abdillah.

“Sampean semua jadi santrinya Kiai Muhsin Abdillah jika pernah buka aibnya maka ilmunya tidak bermanfaat, tapi jika hormat dan ta’dhim maka ilmumu akan bermanfaat sekaligus barokah,” tambahnya.

Alumni Pesantren Kajen, Pati, Jawa Tengah, menjelaskan, Pondok Pesantren itu jika santrinya banyak, itu berarti karena keikhlasan kiainya, dan kiainya sangat berhati-hati / wara’. Orang-orang yang hatinya bersih rata – rata tinggal di pelosok desa, doanya cepat mustajab, cepat terkabul. Maka para wali santri harus senang, anaknya mondok di pondok pesantren karena sanad keilmuannya jelas.

“Santri harus terus berpegang teguh pada kaidah almuhaafadhatu  ‘ala qadiimish shalih wal akhdu bil jadiidil ashlah, pesantren punya keunggulan dalam tradisi kitab kuning / turats. Santri NU harus punya kemampuan untuk pandai beradaptasi dengan lingkungan baru. Contohnya tema-tema aktual, seperti; tentang HAM, feminisme, demokrasi, dan lain-lain, tema-tema ini santri harus siap. Makanya di PBNU digelar halaqah fiqih peradaban, supaya santri paham dengan kondisi sosial kemasyarakatan kekinian yang berkembang di Indonesia,” tambahnya.

Keponakan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin ini lebih lanjut menjelaskan, jamiyyah perkumpulan NU tidak kekurangan kader, karena mereka yang sudah di masuk di perguruan tinggi telah bekali dengan ilmu-ilmu pesantren, dan mereka kini sudah masuk di fakultas perguruan tinggi umum; fakultas ekonomi, fakultas ilmu hukum, fakultas kedokteran, Fisipol, dan lain-lain.

“Maka saya berharap kedepan Jam’iyyah perkumpulan NU di Propinsi Lampung ini segera bangun rumah sakit NU, kampus berbasis NU sudah banyak, pondok pesantren sudah banyak, khidmat NU kepada masyarakat luas dalam bidang layanan kesehatan juga diutamakan,” tutupnya.

 

(REDAKSI)