Kiai Masruri: Ngrumat Jamaah Selapanan, Ngrumat NU

0
316

 LAMPUNG TENGAH – Sangat terasa dalam memori, dan membekas bagi Kiai yang berasal dari Kelahiran Banyumas ini, ada perlakuan yang tidak adil bagi Umat Islam kala itu khususnya warga nahdliyyin dalam mengembangkan dakwah Islam di wilayah ujung timur Sumatera propinsi  Lampung ini. Setiap peringatan pengajian hari besar Islam, panitia pengajian disibukkan dengan harus izin terlebih dahulu, lebih-lebih dengan pihak militer, dalam hal ini Koramil.

Membuka memori dikala itu, bagi Kiai Masruri kecil dan orang tuanya, masa-masa sulit dikalangan masyarakat transmigran yang dari Jawa Tengah khususnya Banyumas untuk memasuki wilayah Lampung. Menempuh perjalanan berhari-hari untuk tiba dan bersandar di Pelabuhan Panjang, kala itu tahun 1950 an, 1960 an, belum ada Pelabuhan Bakauheni seperti saat ini.

Kiai Masruri adalah pria kelahiran Banyumas, 10 Oktober 1952. Dilahirkan dari keluarga besar nahdliyyin yang sederhana. Ia bersama orang tuanya masuk ke wilayah Propinsi Lampung tahun 1954, umur dua tahun setelah ia lahir di Banyumas, diajaklah menuju bersama orang tuanya ke pulau Sumatera, yakni Lampung.

Semasa Masruri kecil, orang tuanya mendorongnya untuk mengutamakan pendidikan, baik agama (diniyyah) maupun pendidikan umum. Masruri kecil jika pagi disekolah umum sedang malam harinya di madrasah diniyyah di emperan Masjid Nurul Huda diwilayah Desanya, Nambahrejo. Pendidikan umumnya ditempuh ; SR tahun 1960 – 1965, SMP 1965 – 1969, dan SPG C tahun 1970. Selebihnya waktu sore hingga malam hari dihabiskannya waktu untuk membantu orang tua dan ngaji bersama Ajengan (Kiai) Zarkasih. Ingin melanjutkan ke PGA oleh gurunya Ajengan Zarkasih dlarangnya.

Ajengan Zarkasih adalah Kiai kharismatik yang berasal dari Tasikmalaya, yang telah lama menetap di Kampung Nambahrejo, Lampung. “Ajengan Zarkasih konon adalah alumni Pesantren Tebu Ireng Jombang, dan pernah mukim di Mekkah selama 7,5 tahun”, kata Kiai Masruri.

Seperti halnya ngaji ala pesantren, zaman dahulu Masruri kecil mengikuti ngaji ala Kitab Kuning, baik Sorogan dan Bandongan di emperan Masjid Nurul Huda dengan modal lampu sentir atau dimar. “Mbah Zarkasih dulu mengajarkan kepada murid-muridnya dengan berbagai macam Kitab, seperti; Sulam Safinah, Sulam Munajah, Sulam Taufiq, Ta’limul Muta’alim, Bidayatul Hidayah, dan Taqrib”, imbuh Kiai Masruri yang juga pensiunan PNS ini.

Selama masih muda, Kiai Masruri sudah mulai aktif kegiatan-kegitan kemasyarakatan di Desa Nambahrejo, seperti PAKSIMUDA, adalah sebagai salah satu penabuhnya, PAKSIMUDA adalah group Sholawatan Jedor / Terbangan milik komunitas jamaah pemuda masjid Nurul Huda (jika sekarang Risma-red) yang selalu tampil di seluruh lapisan masyarakat. Biasanya PAKSIMUDA Desa Nambaherjo selalu diundang jika ada salah satu anggota masyarakat Desa Nambahrejo yang mempunyai hajatan; mantu (pernikahan), supit (khitanan), atau sepasaran bayi, pindah rumah dan lain-lain.

“Namun sayang, seiring kemajuan zaman dan derasnya arus teknologi informasi seperti saat ini, tradisi PAKSIMUDA di Desa ini sudah tidak ada”, imbuhnya yang kini menjadi Suriyah NU Ranting Desa Nambahrejo Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah.

“Tapi alhamdulillah, saat ini masih bisa terobati, meskipun komunitas PAKSIMUDA tidak ada, kini Risma Masjid Nurul Huda Nambahrejo sudah mempunyai kelompok Hadroh, yang digunakan dalam kegiatan rutin selapanan (35 hari sekali) atau pengajian peringatan hari besar Islam, seperti; Muludan, Rejeban, Haul Ajengan Zarkasih dan lain-lain”, imbuhnya lagi.

Kini, Kiai Masruri selain aktif di struktur sebagai pengurus NU baik di Ranting Desa Nambahrejo maupun MWC NU Kecamatan Kotagajah, juga aktif ngrumat jamaah NU baik yang sifatnya mingguan maupun yang selapanan diwilayah Desa Nambahrejo. Karena baginya, Ngrumat Jamaah Selapanan di masyarakat sama halnya dengan Ngrumat NU. Selain di pesantren-pesantren, disanalah sesungguhnya jamaah NU berada pelosok Desa, yang tetap istiqomah, kontinyu merawat dan melestarikan amalan-amalan dari para Ulama, Kiai terdahulu yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdliyyah.

Berkat barokah ilmu Ajengan Zarkasih, saat ini di Desa Nambahrejo, Kiai Masruri membina, mendampingi Jamaah selapanan yang ada di sekitar Desanya, seperti; setiap malam Selasa Kliwon, Istghotsah. Setiap malam Rabu Legi, Sema’an Alquran. Setiap hari Ahad Kliwon, Khataman Alquran, dan setiap Malam Jumat Kliwon Yasinan antar Musholla se Desa Nambahrejo.

Alhmadulillah bersyukur, bagi Kiai Masruri Desa Nambahrejo 90 persen masyarakatnya amaliahnya adalah Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdliyyah. Sebagaimana kita mafhum, mayoritas warga Desa Nambahrejo adalah pendatang alias transmigran dari Pulau Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur. Sehingga masyarakat disini mudah-mudahan terhindar dari faham-faham yang “aneh-aneh”.

Selain barokah dari Ajengan Zarkasih, bagi Kiai Masruri, NU bisa tambah subur dan barokah di Desa Nambahrejo ini, berkat doa poro Kiai-Kiai terdahulu yang silaturahim dan berkenan mengisi pengajian disini ketika di undang peringatan hari-hari besar Islam, poro Kiai-Kiai yang sudah ke Desa Nambahrejo antara lain; Almaghfurlah KH Raden Rahmat Djoyo Ulomo (pendiri pesantren Tri Bakti At Taqwa Raman Utara Lampung Timur), Almaghfurlah Kiai Ngali Hasyim, Almaghfurlah Kiai Aminan (tokoh pendiri Ma’arif NU Kecamatan Kotagajah), Kiai Syarbaini, Kiai Bani, Kiai Imam Sibawaih dan lain-lain. Semua poro Kiai-kiai tersebut sudah wafat.

Kepada generasi muda saat ini dan seterusnya Kiai Masruri berpesan, agara generasi muda tetap istiqomah dan terus berjuang demi Nahdlatul Ulama. Tantangan zaman sekarang tidak sebanding dengan tantangan dakwahnya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’arie, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansuri dan Kiai-kiai lainnnya.

“Dan yang tak kalah penting menanamkan kepada generasi muda NU sejak dini bahwa Cinta Tanah Air itu adalah Sebagian dari Iman (hubbul wathon minal iman), ini penting bagi wong NU, pungkasnya. (Akhmad Syarief Kurniawan).