Gus Andi Ali Akbar : Hati-Hati Manusia Bersumpah Mengatasnamakan Allah SWT

0
333
Ngaji Rutinan Tafsir Jalalain bersama Dr. KH. Andi Ali Akbar, M.Ag

LAMPUNG TENGAH – Malam ini ngaji rutinan kita menjelaskan QS Al-Baqarah ayat 224, ayat tersebut memberikan pesan moral kepada seluruh umat manusia, janganlah sampai bersumpah mengatasnamakan Allah SWT menjadi penghalang untuk berbuat baik.

Keterangan tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Darusy Syafa’ah Dusun Kauman, Kampung Kotagajah, Kecamatan Kotagajah, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung, Dr. KH. Andi Ali Akbar, M.Ag, dalam Ngaji Rutinan Tafsir Jalalain, Jum’at (8/12/2023.) malam bakda Maghrib, di Masjid Agung Ash Shulaha, Kampung Kotagajah, Kecamatan Kotagajah, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung.

Ngaji Rutinan Tafsir Jalalain bersama Dr. KH. Andi Ali Akbar, M.Ag

Gus Andi, sapaan akrabnya sehari-hari, melanjutkan, dikisahkan bahwa Abdullah bin Rawahah pernah bersumpah tidak akan bersilaturahim  kerumahnya sahabat Nukman. Maka, pesan agama kita, jangan Allah SWT menjadi sasaran sumpah manusia untuk berbuat kebaikan.

“Dalam kalimat ‘urdhah tersebut memiliki dua makna ; penghalang dan sasaran. Kita jangan banyak sumpah atas nama Allah SWT, hal tersebut membuat rendah nama Allah SWT itu sendiri, menjadikan tidak sakral, baik untuk hal yang kecil dan hal yang besar,” imbuhnya.

Wakil Katib Syuriah PWNU Lampung ini melanjutkan, dikisahkan Siti Aisyah pernah ikut perang bersama Kanjeng Nabi Muhammad SAW, tapi ketiduran dibawah sebuah pohon, kemudian ditemukan diantar pulang oleh seseorang, lalu peristiwa tersebut dibuat berita bohong oleh Mistoh bahwa Siti Aisyah telah selingkuh, lalu mendengar peristiwa tersebut sahabat Abu Bakar Shiddiq melakukan sumpah tidak akan silaturahim kerumah Mistoh tersebut karena telah menyebarkan berita bohong.

Berikutnya ia menjelaskan, Allah SWT tidak akan menyiksa orang yang bersumpah yang tidak sengaja, tapi orang yang melanggar sumpahnya maka akan mendapatkan hukuman dari Allah SWT.

“Orang jika bersumpah tidak menepati sumpahnya atau hukumannya tidak menepati sumpah, ada beberapa hal yakni;  bayar kafarat memberi makan kepada 10 fakir miskin, memerdekakan budak, memberi pakaian fakir miskin, atau puasa Sunnah.

Ngaji Rutinan Tafsir Jalalain bersama Dr. KH. Andi Ali Akbar, M.Ag

Alumni Pondok Pesantren Blokagung, Banyuwangi, Jawa Timur ini melanjutkan, ayat berikutnya, menjelaskan, suami tidak boleh bersumpah tidak akan menyetubuhi kepada istrinya lebih dari 4 bulan. Keterangan lainnya, jika dalam kitab Fathul Mu’in, suami bersetubuh dengan istri itu jangan lebih dari 4 hari.

“Jika suami tidak setubuhi istrinya dalam waktu 4 bulan maka boleh talaq, maka hakim, jika di Indonesia adalah KUA yang turun tangan. Dalam hadits diterangkan bahwa yang disenangi manusia adalah senang pada 3 (tiga) hal; Senang istri (bersetubuh), senang parfum, dan senang sholat,” tambahnya.

Alumnus Doktoral UIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur ini meneruskan, suami bersetubuh dengan istrinya itu hanya cinta kepada Allah SWT. Maka kenikmatan apapun yang ada didunia ini, dunia ini hanya sebagai wasilah cinta kepada Allah SWT, contohnya istri kita masing-masing. Maka pesan Islam, salah satu makna nikah adalah bersetubuh, di dalam tasawuf orang yang berzina itu tidak ada nikmatnya, beda dengan istrinya sendiri, disana ada ketenangan batin, ketenangan jiwa.

 

(REDAKSI)